Gowa, Sabtu (04/04/2026) –
Jurusan Ilmu Peternakan (JIP), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas
Islam Negeri Alauddin Makassar (UIN Alauddin Makassar) sukses menyelenggarakan
kegiatan Kuliah Umum dan Workshop Bioteknologi Reproduksi dengan mengusung tema
“Potensi Pengembangan Ternak Kuda di Indonesia”. Kegiatan ini
berlangsung di Lantai 3 Fakultas Sains dan Teknologi dan dihadiri oleh dosen
serta mahasiswa Jurusan Ilmu Peternakan. Acara ini menghadirkan narasumber
utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yaitu Syahruddin Said, yang
merupakan peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan. Kehadiran beliau
memberikan wawasan ilmiah dan praktis terkait pengembangan ternak kuda berbasis
teknologi reproduksi modern.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh
Ketua Jurusan Ilmu Peternakan FST UIN Alauddin Makassar, Amriana Hifizah. Dalam
sambutannya, beliau menekankan bahwa pengembangan ternak kuda di Indonesia
masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi preferensi konsumsi
masyarakat. Daging kuda masih kurang diminati dibandingkan daging sapi,
sementara di negara maju, pemanfaatan ternak kuda cenderung bersifat eksklusif,
seperti produksi susu kuda yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun terbatas
pada kalangan tertentu karena biaya produksi yang relatif mahal. Lebih lanjut,
beliau berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana peningkatan wawasan dan
kapasitas mahasiswa serta dosen dalam memahami peluang pengembangan ternak
kuda, khususnya melalui pendekatan bioteknologi reproduksi yang inovatif dan
berkelanjutan.
Jalannya kegiatan dipandu oleh moderator Ayu Lestari yang memfasilitasi diskusi interaktif antara narasumber dan peserta. Dalam pemaparannya, Prof. Syahruddin Said menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penduduk Indonesia berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan pangan, khususnya protein hewani. Namun, kondisi ini belum diimbangi dengan peningkatan populasi dan produktivitas ternak secara optimal. Ia menyoroti bahwa kemampuan produksi daging dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional, sehingga ketergantungan terhadap impor daging masih cukup tinggi. Selain itu, beliau juga mengaitkan konsumsi daging dengan pertumbuhan ekonomi global (PDB), di mana semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat, maka konsumsi protein hewani cenderung meningkat. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi sektor peternakan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, termasuk melalui diversifikasi sumber protein seperti ternak kuda.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa
jika ketergantungan terhadap impor terus meningkat, maka hal tersebut
berpotensi menghambat proses pemuliaan ternak lokal serta kemandirian pangan
nasional di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang terintegrasi,
termasuk pemanfaatan bioteknologi reproduksi, untuk meningkatkan produktivitas
dan kualitas genetik ternak. Dalam konteks tersebut, Prof. Syahruddin Said juga
memaparkan perkembangan bioteknologi reproduksi hewan yang saat ini semakin
maju dan berperan penting dalam peningkatan produktivitas ternak. Teknologi
seperti inseminasi buatan (IB), transfer embrio, fertilisasi in vitro (IVF),
serta kriopreservasi semen dan embrio menjadi bagian dari inovasi yang mampu mempercepat
perbaikan mutu genetik ternak secara signifikan.
Secara khusus, inseminasi buatan (IB) menjadi teknologi yang paling banyak diterapkan di Indonesia karena relatif mudah diadopsi di tingkat peternak. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan pejantan unggul secara luas tanpa perlu memindahkan ternak secara fisik, sehingga lebih efisien dari segi biaya dan manajemen. Selain itu, inseminasi buatan juga berperan dalam meningkatkan angka kelahiran, mempercepat peningkatan kualitas genetik, serta mengurangi risiko penularan penyakit reproduksi. Namun demikian, keberhasilan penerapan teknologi ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, seperti kualitas semen, ketepatan waktu pelaksanaan inseminasi, keterampilan inseminator, serta manajemen reproduksi di tingkat peternak. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya tenaga inseminator yang terlatih dan bersertifikasi, menjadi kunci utama dalam mendukung keberhasilan program reproduksi ternak.
Dalam pengembangan ternak kuda, penerapan bioteknologi reproduksi, khususnya inseminasi buatan, dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan populasi dan kualitas ternak. Meskipun demikian, implementasinya masih menghadapi tantangan baik dari sisi teknis maupun sosial, sehingga diperlukan dukungan riset, inovasi, serta kebijakan yang berkelanjutan. Kegiatan ini diharapkan mampu membuka wawasan peserta mengenai pentingnya inovasi dalam pengembangan subsektor peternakan, serta mendorong lahirnya penelitian dan pengabdian masyarakat yang berfokus pada optimalisasi potensi ternak lokal, termasuk ternak kuda di Indonesia.(HIS)