Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
[email protected] Portal Akademik Masuk
  1. Beranda
  2. Berita
  3. Detail Berita
Inovasi Pangan Sehat: Jurusan Kimia UIN Alauddin Edukasi Santri Manfaatkan Kulit Buah Naga sebagai Pengawet Alami

Inovasi Pangan Sehat: Jurusan Kimia UIN Alauddin Edukasi Santri Manfaatkan Kulit Buah Naga sebagai Pengawet Alami

GOWA – Keamanan pangan menjadi perhatian serius bagi akademisi Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), UIN Alauddin Makassar. Sebagai langkah nyata dalam memberikan solusi bagi masyarakat, tim dosen dan mahasiswa menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk "Edukasi Pemanfaatan Kulit Buah Naga (Hylocereus polyrhizus) sebagai Pengawet Tahu yang Aman dan Halal serta Pengenalan Simulasi GC-MS"<!----><!----><!----><!---->.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 30 Maret 2026, di Laboratorium Riset Jurusan Kimia ini menghadirkan siswa-siswi dari Pondok Pesantren Al-Fatih Parangmata, Kabupaten Takalar, sebagai peserta utama<!----><!----><!----><!---->.

Latar belakang kegiatan ini didasari oleh tingginya risiko penggunaan pengawet sintetis berbahaya seperti formalin pada tahu, yang merupakan sumber protein populer namun mudah rusak<!----><!----><!----><!---->. Dr. Rismawaty Sikanna, S.Si., M.Si., selaku pemateri utama, memaparkan bahwa limbah kulit buah naga mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid, tanin, dan alkaloid yang mampu menghambat bakteri pembusuk seperti E. coli dan S. aureus<!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!----><!---->.

"Senyawa flavonoid dan tanin dalam kulit buah naga bekerja seperti 'tentara' yang merusak dinding sel bakteri, sehingga tahu bisa lebih awet secara alami tanpa membahayakan kesehatan," jelas tim pemateri dalam sesi edukasi<!---->.

<!---->

Para santri diajarkan alur pembuatan ekstrak pengawet secara sederhana, mulai dari pencucian kulit buah naga, ekstraksi dengan pelarut air atau etanol food grade, hingga tahap perendaman tahu<!---->. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak ini dapat memperpanjang masa simpan tahu hingga 2-3 hari di suhu ruang, bahkan bisa mencapai 5-6 hari dengan metode ekstraksi tertentu<!---->. Selain aman, metode ini juga menjamin aspek kehalalan karena menggunakan bahan baku nabati yang jelas titik kritisnya<!---->.

Tidak hanya belajar pangan, para peserta juga diperkenalkan dengan teknologi analisis kimia modern melalui simulasi Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS)<!---->. Simulasi ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan siswa mengenai cara ilmuwan mengidentifikasi senyawa kimia secara akurat dalam suatu sampel<!----><!----><!----><!---->.

Ketua Jurusan Kimia UIN Alauddin Makassar, Ummi Zahra, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini berjalan dengan sukses dan mendapat antusiasme tinggi dari para santri<!----><!----><!----><!---->. Melalui edukasi ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamanan pangan meningkat, sekaligus memberikan alternatif pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang bernilai guna dan ekonomi<!----><!----><!----><!---->.