Posisi strategis Sulawesi Selatan sebagai Wilayah Wallacea dengan tingkat endemisme tinggi kembali dipertegas melalui serangkaian riset yang dilakukan oleh dosen UIN Alauddin Makassar (UINAM), khususnya Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Isna Rasdianah Aziz, aktif meneliti tumbuhan endemik Dillenia (Dengen) di Sulawesi Selatan, salah satunya di Hutan Simoma Kayu Lara, Kabupaten Luwu. Penelitian yang dilakukan dengan tim risetnya, turut melibatkan mahasiswa dan alumni prodi Biologi, yang telah dimulainya sejak 2023 hingga saat ini.
Selain identifikasi tumbuhan endemik, Isna, sapaan akrabnya di prodi Biologi, juga melakukan pemetaan interaksi spesies pada kawasan tersebut. Riset ini bertujuan untuk memahami peran ekologis Hutan Kayu Lara sebagai benteng pertahanan terakhir plasma nutfah khas Sulawesi Selatan di wilayah Luwu.
"Keberadaan Dillenia di Hutan Kayu lara dengan densitas sedang, menunjukkan bahwa kualitas ekosistem yang masih terjaga. Dillenia dikenal memiliki buah yang dapat dikonsumsi oleh primata endemik seperti Macaca (monyet Sulawesi) serta berbagai jenis burung hutan lainnya, yang sekaligus berperan sebagai agen pemencar biji alami bagi regenerasi hutan tersebut," jelasnya.
Dalam risetnya, Dosen yang tengah menempuh studi Ph.D. di Leeds Inggris tersebut, berhasil mendokumentasikan keberadaan kelompok Macaca, yang secara tentatif diidentifikasi sebagai Macaca tonkeana, dengan ciri khas ischial callosities berwarna putih dan bulu hitam legam. Mengingat statusnya yang masuk dalam kategori Vulnerable (Rentan) menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), temuan keberadaan primata ini di Hutan Kayu Lara menjadi data konservasi yang sangat krusial.
"Saat ini, kami sedang menganalisis eDNA dan mengidentifikasi berbagai jenis suara hewan yang kami temukan di sana. Harapannya, kami segera memiliki bank data spesies di hutan tersebut", tambahnya.
Hasil riset ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah yang kuat dalam memahami bagaimana ekosistem hutan dataran rendah di Luwu. Sebagai laboratorium alam, Hutan Simoma Kayu Lara telah menjadi lokasi penelitian yang tak terbatas bagi mahasiswa dan peneliti di masa depan.
Menurut Isna, kerusakan hutan sekecil apapun, akan menyebabkan edge effect yang dapat merusak struktur vegetasi pohon Dillenia sebagai penyangga tanah dan putusnya rantai pasokan pangan bagi satwa, sehingga mengancam hilangnya populasi aset alam endemik yang tidak dimiliki di luar Sulawesi.
Melalui dedikasi riset ini, Isna dan tim Biologi UIN Alauddin Makassar berharap Hutan Penelitian dan Wisata Kayu Lara Luwu tetap menjadi paru-paru biodiversitas dan kebanggaan identitas alam Sulawesi Selatan. (IRA)