PENERAPAN BIOSEKURITI SEBAGAI UPAYA MENINGKATAKAN PRODUKTIVITAS UNGGAS KOMERSIAL NON AGP

  • 04-04-2020
  • 12:07 WITA
  • admin_fst
  • Artikel

Resistensi antimikroba (AMR) merupakan kondisi dimana mikroorganisme mampu beradaptasi dengan agen antimikroba sehingga antibiotik menjadi tidak efektif untuk menyembuhkan penyakit. Jika tidak ada upaya pengendalian global, diperkirakan pada tahun 2050, AMR akan menjadi pembunuh terbanyak di dunia, dengan angka kematian mencapai 10 juta jiwa setiap tahun. Ancaman dampak AMR menjadi hal yang sangat penting karena erat kaitannya dengan pemenuhan produksi daging dan penyediaan pangan yang aman untuk konsumsi manusia, khususnya keberadaan residu antibiotik pada daging sebagai akibat penggunaan antibiotik tidak secara bijak pada saat pencegahan dan pengobatan ternak yang sakit sekaligus sebagai imbuhan pada pakan ternak dengan harapan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas unggas selama periode pemeliharaan.

Sebagai tindak lanjut upaya penanggulangan dampak AMR, pemerintah telah mengeluarkan aturan mengenai larangan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan mulai 1 Januari 2018, yang mengacu pada amanat UU No. 41 tahun 2014 Jo. UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Salah satu langkah strategis yang efektif pasca pelarangan tersebut adalah penerapan biosekuriti pada peternakan unggas. Berdasarkan perspektif kesehatan hewan, biosekuriti merupakan pertahanan awal dari sistem pencegahan penyakit terhadap berbagai kemungkinan mikroorganisme penyebab penyakit yang bersifat menular antar ternak maupun dari hewan ke manusia dan sebaliknya sehingga dapat meminimalisir berbagai dampak negatif bagi masyarakat maupun lingkungan. Komponen utama biosekuriti yang menjadi perhatian utama terdiri dari tindakan isolasi, kontrol lalu lintas dan sanitasi.

Beberapa penelitian terkait tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit seperti Avian influenza dan Salmonellosis pada peternakan unggas komersil sektor III (broiler dan layer) telah dilakukan terhadap peterna pada beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan berbagai kendala yang dihadapi oleh peternak selama periode pemeliharaan. Penerapan biosekuriti secara rutin dan konsisten di peternakan unggas komersil, dapat menurunkan penggunaan antibiotik dalam tindakan pengobatan sekaligus sebagai AGP. Dengan demikian bahan pangan asal hewan untuk dikonsumsi oleh masyarakat terjamin keamanan dan kesehatannya.

Beberapa penelitian terkait tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit seperti Avian influenza dan Salmonellosis pada peternakan unggas komersil sektor III (broiler dan layer) telah dilakukan dibeberapa kabupaten Se Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan berbagai kendala yang dihadapi oleh peternak selama periode pemeliharaan. Penerapan biosekuriti secara rutin dan konsisten pada peternakan unggas komersil, dapat menurunkan frekuensi penggunaan antibiotik dalam tindakan pengobatan sebagai akibat minimnya ternak yang mengalami sakit, dan bahkan produksi tetap tinggi tanpa menggunakan Antibiotics and Growth Hormones (AGP) sebagai pemicu pertumbuhan. Dengan demikian bahan pangan asal hewan untuk dikonsumsi oleh masyarakat terjamin keamanan dan kesehatannya. Dampak penerapan biosekuriti yang baik adalah dapat menekan biaya produksi yang bermuara pada peningkatan produktivitas unggas komersil.